README.TXT

selamat membaca saya, nisa :)

Jarak

2013-10-21-23-43-38_deco

Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk kembali menulis untuk diri sendiri, selain hari
ulang tahun. Di hari yang satu ini, aku memikirkan hidup lebih daripada yang
biasanya. Tentang dua digit angka yang makin besar nominalnya (usia, bukan gaji
sayangnya), dan beberapa hal yang masih begitu-gitu saja. Kontemplasi biasa gaya
anak muda yang masa depannya masih diraba-raba.

Hari ulang tahun tidak seberapa istimewa. Kecuali doa yang mengalir lebih banyak
dibanding hari-hari pada umumnya, dan ucapan selamat dari orang yang tidak kita
sangka. Pasti ada kan, satu dua.

Tapi hari yang seperti inilah yang membuat aku mengingat tentang kamu lebih dari
porsi seharusnya. Kamu orang hampir paling baik yang pernah aku jumpa, dan cinta
(karena segala ‘paling’ hanya milik orangtua, ya). Raga kamu hampir selalu alpa tapi
aku merasakan hadirnya lewat suara, dan tatap muka berkala dalam selang hitungan
purnama.

Kamu adalah cerita sepanjang rel kereta Jakarta – Jogja. Cerita dalam tronton
tentara. Dalam Hercules yang mengudara. Dalam barisan angkatan bersenjata,
dalam tenda mahasiswa.

Kamu adalah cerita dari Bandung, Marawola, sampai Kalamanta. Cerita longsor
dan sepeda motor. Cerita Danau Lindu dan Sungai Lariang. Cerita perjudian pasar
malam, cerita dari dusun Kabobona.

Kamu adalah teman harian, partner penelitian, dan petualangan lima bulan pertama
kita berkenalan. Dari desa ke desa, kamu lalu jadi istimewa.

Warung bakso tepi sawah, warung internet kecamatan, warung biru depan lapangan,
warung kecil samping pos kesehatan, atau warung numpang lewat pinggir jalan
waktu kita kehujanan. Dari tempat-tempat itulah aku mengenal kamu lebih dalam.
Dan kataku, kamu lebih dari sekedar pantas untuk dipertahankan.

Mimpimu mendaki setiap gunung di daerah yang kamu datangi, dan mauku
mengunjungi seluruh taman nasional di dalam negeri. Dalam bayanganku di antara
kita tidak selamanya negasi seperti aku berantakan dan kamu akan membereskan
pun sebutir nasi di meja makan.

Hari ini, bagiku jarak sekali-kali menguatkan, dan dalam waktu yang sama melemahkan. Tapi sama sekali bukan panjangnya kilometer yang aku khawatirkan.

Pikirku jarak yang satu ini, bisa jadi dia paling menakutkan. Dia jarak, kesenjangan dalam time frame masing-masing kita tentang masa depan. Mungkin kita menginginkan hal yang sama, namun dalam
patok waktu yang berbeda. Saat itu boleh kita berduka, karena itulah sebenar-benarnya jarak yang menjadikan kita tiada.

Jadi hari ini aku mengingat kamu sambil berdoa. Semoga seperti apapun skenarionya, kita yang meniadakan jarak, bukan sebaliknya. Aku tidak tahu caranya. Tapi pikirku Tuhan tahu, hanya saja Ia menunggu.

Advertisements

Wajah-Wajah Ramah Para Pengibar Bendera dari Tanah yang “Katanya” Konflik

IMG_1628

8 Maret 2013 – Orang Indonesia dikenal dengan keramahtamahannya. Totalitasnya dalam menyambut dan menjamu tamu. Antusiasme, dan ekspresifnya kita dalam setiap selebrasi. Dari kanak-kanak sampai para orangtua.

Wajah-wajah hangat ini yang menyambut kami dalam sebuah arak-arakan di Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Itu kami yang mereka sapa, tim Ekspedisi NKRI yang bahkan bukan siapa-siapa. Hari itu kami baru tiba. Hercules kami belum lama mendarat di bandara Mutiara. Sakit dan lelah hasil berjam-jam mblusukan di udara, rasanya seperti hilang seketika.

Semangat mereka membuat semarak Jalan Poros Palu Bangga yang melewati desa Padende dan Binangga, dua desa yang dikabarkan selalu berseteru. Di televisi, Sigi di pinggiran ibukota Palu ini kerap tampil dengan imej negatif sebagai daerah konflik. Lempar batu, senjata rakitan dumdum, sampai adegan bakar membakar dalam banyak perkelahian antar kampung. Nyatanya, Sigi tidak melulu seperti kata media.

Damai di Sigi bisa kita lihat dalam frame penuh senyum ini. 🙂
Show less